Wednesday, February 9, 2022

arah

pada arah, aku kini menghindari banyak darah

pada langkah, aku pun hindari salah arah

karena katamu "kau ini mudah tersesat, biar aku saja."

nyala pada lampu, kehangatanku

nyatanya masih kurang untukmu

jadi aku pergi dulu

dan padamu, selesaikan sebelum timbul air mata baru


pekat pagi

tidak perlu repot mengunjungi

karena aku lebih banyak berpindah-pindah

tidak perlu risau kepalamu memikirkanku

lagipula pergiku adalah perayaanmu

aku pernah menjadi yang bahagia

sebelum sudahnya menjadi luka-luka

aku pernah menjadi banyak warna

sebelum akhirnya yang paling sirna

pukul dua mu bagaimana?

semoga aman dalam pelukan entah siapa


2022

Tuesday, February 8, 2022

hijau

ku lautkan luka ku 

biar ia bebas sendirian

diasuh karang

ditikai asin ombak,

          kini selesai bencana itu ku buat.


tinta doa.



kangen


kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku

menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

kau tak akan mengerti segala lukaku

kerna cinta telah sembunyikan pisaunya

membayangkan wajahmu adalah siksa.

kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.

engkau telah menjadi racun bagi darahku.

apabila aku dalam kangen dan sepi

itulah berarti

aku tungku tanpa api.

W.S Rendra

Sunday, February 6, 2022

nampak biasa, seharusnya

kepergian dan ketidakpedulian

keduanya nampak biasa, seharusnya

bahwa kemurnian hati bak elang yang bebas pergi 

dan serupa angin yang menciptakan indahnya ombak lautan 

sulit dipahami, tidak terlihat,

keduanya tenang, bukan?

jika kepergian sudah biasa 

mengapa harus membekaskan luka-luka? 



Februari 2022





tulisan yang tak kunjung sampai pandangku kabur di ingatan yang tak kunjung mati ia penuh dalam laci lemari, rel kereta api, atau bahkan sel...